Dari Inquiry Terstruktur ke Inquiry Terbimbing: Studi Komparatif Dua Model Pembelajaran IPA terhadap Keterampilan Proses Sains dan Penalaran Bukti
Abstract
Artikel ini menganalisis perbedaan efek pedagogis inquiry terstruktur dan inquiry terbimbing terhadap keterampilan proses sains dalam pembelajaran IPA SMP. Dengan desain multi-kasus komparatif, studi ini mensintesis bukti kelas dari dua rezim implementasi yang dilaporkan dalam artikel bereputasi, dokumen perangkat ajar, dan tugas asesmen. Perbandingan diarahkan pada bagaimana keterbukaan tugas, scaffolding guru, penalaran eksperimental, dan rutinitas umpan balik membentuk kemampuan observasi, perumusan hipotesis, interpretasi data, dan penjelasan berbasis bukti. Temuan menunjukkan bahwa inquiry terstruktur efektif meningkatkan kepatuhan prosedural dan penyelesaian tugas, tetapi inquiry terbimbing lebih konsisten mengembangkan keterampilan proses yang dapat ditransfer, terutama ketika siswa harus merumuskan pertanyaan, membenarkan variabel, dan menafsirkan hasil yang tidak sesuai prediksi. Meskipun demikian, inquiry terbimbing tidak otomatis lebih unggul; efektivitasnya bergantung pada scaffolding epistemik, alokasi waktu, dan kemampuan guru mengubah ketidakpastian menjadi penalaran yang produktif, bukan kebingungan. Artikel ini berargumen bahwa isu utama bukan keberadaan retorika inquiry, melainkan kualitas mediasi pedagogis yang menghubungkan aktivitas laboratorium dengan penjelasan konseptual. Kontribusi artikel ini ialah model penjelasan yang mengaitkan tingkat keterbukaan inquiry, kualitas scaffolding, dan keterampilan proses sains. Studi ini relevan bagi science education research karena melampaui debat biner “inquiry versus pengajaran langsung” dan menjelaskan mekanisme instruksional ketika inquiry menjadi bermakna secara pendidikan.