Tata Kelola Pariwisata Digital dan Resiliensi Ekonomi Lokal: Perbandingan Bali dan Daerah Istimewa Yogyakarta
Keywords:
tata kelola pariwisata, resiliensi destinasi, pariwisata digital, ekonomi lokal, daya saing wilayahAbstract
Artikel ini membandingkan tata kelola pariwisata Bali dan Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menjelaskan bagaimana pengaturan digital dan kelembagaan membentuk resiliensi ekonomi lokal. Keduanya merupakan destinasi pariwisata utama di Indonesia, tetapi bertumpu pada struktur pasar dan campuran wisata yang berbeda. Dengan menggunakan analisis kualitatif komparatif atas statistik resmi pariwisata, portal pariwisata provinsi, dan dokumen kebijakan periode 2024–2026, artikel ini berargumen bahwa pemulihan dan resiliensi pariwisata tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan kunjungan, melainkan oleh kapasitas tata kelola dalam mendiversifikasi pasar, menstabilkan okupansi, dan menghubungkan arus wisata dengan ekonomi lokal yang lebih luas. Bali menunjukkan pemulihan internasional yang sangat kuat, sementara Yogyakarta memperlihatkan resiliensi melalui sirkulasi wisata domestik. Namun, Bali tetap lebih terekspos terhadap volatilitas permintaan eksternal, sedangkan Yogyakarta menghadapi intensitas belanja yang lebih rendah dan lama tinggal yang lebih pendek. Temuan menunjukkan bahwa digital tourism governance dapat meningkatkan responsivitas destinasi dan akses informasi, tetapi efek ekonominya tergantung pada strategi kelembagaan yang lebih luas.